Hari senin merupakan hari pertma mengikuti Diklat Fungsional Peneliti Tingkat Pertama yang dilaksanakan di pusbindiklat LIPI. Kegiatan iin diikuti oleh 30 peserta dari empat lembaga, antara lain: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan PT. Risert Perkebunan Nusantara.
Pembukaan acara diklat ternyata harus pakai dasi. Untung masih bisa pinjam.
Acara pembukaan dimulai pukul 7.30. Namun 15 menit sebelumnya peserta sudah datang untuk persiapan acara dan gladi resik. Kemudian ada perwakilan peserta yang akan disematkan tanda pengenal, ada yang ditunjuk sebagai pembaca doa dan pemimpin lagu Indonesia Raya.
Kemudian peserta juga ditentukan posisi untuk pengambilan foto bersama supaya tidak ribut nantinya.
Acara dimulai pukul 07.30
Dalam pembukaan, disampaikan laporan oleh panitia, Ibu Ika Susanti, M.M dan dilanjutkan ceramah umum Pimpinan LIPI oleh Prof. Dwi Eny Djoko Setyono, M.Sc.
Dalam kesempatan ini, Pak Dwi memberikan pesan agar peserta bisa menjaga nama baik penulis. Oleh karena itu, maka dalam melakukan publikasi ilmiah harus dilandasi kejujuran dan menerapkan kode etik penulis. Jangan sampai terjadi plagiarisme atau hal lainnya yang dapat mencoreng nama baik penulis. Pusbindiklat LIPI yang bertugas sebagai pembimbing calon peneliti dalalm 24 hari ke depan akan menggodok kami agar bisa menjadi peneliti yang baik dan berkualitas.
Tugas peneliti pertama tidaklah berat karena tuntutannya hanya membuat Karya Tulis Ilmiah Nasional yang terakreditasi, maupun tidak.
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan Pengarahan Program Diklat dan Bimbingan On-Line oleh Ibu Ika. Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan Tata Tertib selama kegiatan berlangsung dan desain evaluasi diklat.
Pak Mumu kemudian melanjutkan acara melalui pengenalan sibimbo (sistim bimbingan online). jadi selam mengikuti diklat, peserta diminta untuk membuat draft KTI yang nantinya akan dibimbing oleh pembimbing yang sudah ditentukan Panitia. Setiap pembimbing akan membimbing lim orang peserta. Draft KTI akan dikonsultasikan melalui sibimbo. Minimal harus ada lima kali perbaiak atau konsultasi yang dilakukan oleh peserta untuk bisa mengikuti Seminar KTI.
Acara selesai saat coffee break, jadi peserta masih punya waktu sebelum melanjutkan acara berikutnya.
Setelah istirahat makan siang, acara dilanjutkan dengan Jurnal Elektronik yang disampaikan oleh Bapak Sutrisno Heru Sukoco, S.Si atau biasa dipanggi Pak Nono dan Ibu Yogtavia Indah K, S.E atau biasa dipanggil Ibu Yokta.
Pak Mumu menyampaikan materi "Pengenalan Open Journal System (OJS) Bagi Penulis". Beliau memberikan gambaran mengenai beberapa jurnal yang ada di Indonesia, beberapa sudah terakreditasi namun ada juga yang belum. Ternyata jumlah jurnal yang ada di Indoesia lumayan banyak bahkan mencapai ratusan. Namun. Saat ini, beberapa journal yang sudah terakreditasi sudah menerapkan open journal system sehingga memudahkan dalam proses penerbitan journal. Penulis akan mengirimkan naskahnya melalui OJS, selanjutnya editor akan melakukan seleksi, apakh jornal tersbut layak masuk editor atau tidak. Apabila tidak maka naskah akan dikembalikan kepada penulis. Apabila lulus seleksi, akan dilanjutkan melalui sector editor yang akan di review oleh beberapa reviewer. Reviewer akan memberikan rekomendasi rekomendasi apakah naskah diterima, butuh revisi, atau naskah dikirim ke journal lain. Apabila diterima, Selanjutkan penulis akan melakukan perbaikan sesuai usulan reviewer. Setelah dianggap layak oleh reviewr, selanjutnya naskah akan direkomendasikan untuk terbit.
Sebenarnya ada banyak materi yang disampaikan dalam Pengenalan OJS System, namun kali iin saya tidak akan membahasnya lebih lanjut karena keterbatasan waktu.
Acara dilanjutkan dengan pengenalan mendeley oleh Ibu Yogta. Berhubung saya sudah pernah menggunakan software tersebut, maka saya hanya membantu rekan lain yang belum pernah menggunakan software tersebut agar bisa mengaplikasikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar