Kamis, 12 Oktober 2017

Bawang Putih Part 3.

Semenjak tinggal di rumah Nenek, rutinitas bawang putih sedikit berubah. Karena tidak mau merepotkan, bawang putih membantu hampir semua pekerjaan rutin sehari-hari. Hanya saja, Sang Nenek lah yang bertugas memasak, dan menyapu lantai. Kafang Nenek juga membantunya mencuci san mengambil jemuran. Tugas bawang putih pun sedikit berkurang dibandingkan sewaktu tinggal dengan Ibu tirinya. Dengan begitu, dia masih punya banyak waktu untuk mempelajari keahlian baru.

Rupanya, sang nenek tidak hanya mengajari cara bercocok tanam. Nenek juga mengajari cara mengolah makanan dari hasil tanamannya. Dengan begitu, kemampuan memasak baawng putih pun semakin bertambah. Nenek mengenalkannya pada bumbu rempah-rempah, dan bumbu masakan lainnya. Bawang putih pun diajarai cara merawat tubuhnya. Bagaimana membuat ramuan untuk membuat shampoo, sabun, masker, dan membuat parfum dengan berbagai metode.

Tidak terasa, 5 bulan telah berlalu. Kini bawang putih semakin cantik mempesona. Rambutnya hitam, lurus, lembut, dan wangi. Kulitnya semakin cerah dan mukanya nampak bersinar. Meskipun dia belum mempelajari semua keahlian sang nenek, namun bawang putih merasa sudah cukup untuk saat ini. Sesuai janjinya, 5 bulan adalah waktu yang dia rencanakan untuk belajar. Dan kalau ingin mempelajari semua keahlian sang nenek, dia rasa 10 tahun pun tidak akan cukup. Maka dia tidak akan memperpanjang masa belajarnya, dan berfikir untuk segaera menerapkan seluruh ilmunya seorang diri, tanpa bantuan Nenek. Selain itu, dia sangat merindukan rumahnya. Bawang putih tidak terlalu peduli dengan kemarahan Ibu tirinya. Dan berharap kalau Ibu tirinya sudah menikah lagi atau bawang merah yang sudah menikah. Sehingga mereka tidak perlu tinggal di rumahnya lagi.

Maka, menjelang sore, bawang putih pun berpamitan untuk pulang besok pagi. Tidak lupa sang nenek membekali aneka benih dan bibit. Berharap bahwa bawang putih dapat menerapkan ilmu yang dipelajarinya dan bisa hidup mandiri. Sang nenek berpesan agar bawang putih tidak usah sungkan kalau mau berkunjung lagi. Pintu rumahnya akan selalu terbuka apabila bawang putih berkeunjung kembali.

Seperti biasa bawang putih selalu berangkat pagi hari agar sampai rumah tengah hari. Namun entah kenapa perasaannya sedikit deg-degan. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Ibu tiri atau Bawang merah. Menjelang tengah hari, bawang putih sudah melihat rumahnya dari kejuhan. Namun nampak banyak yang berubah di sekitar rumahnya. Kebun yang dulu tidak tearwat kini sudah dihiasi bunga-bunga berwarna warni. Kandang hewan ternak nya pun kini sudah diperbaiki. Dari kejauhan sudah terliha sapi, kambing dan kuda di sekitar kandangnya. Dalam hati, bawang putih bertanya-tanya. Ada apa gerangan dengan rumahnya. Apakah Ibu tirinya telah menikah lagi dan suami barunya yang merenovasi rumah tersebut? Bawang putih tidak bisa berfikir banyak lagi. Dengan perasaan campur aduk dia berlari menuju rumahnya.

Semakin mendekat, kini bawng putih merasa semakin asing dengan kondisi rumahnya. Banyak sekali perubahan yang terjadi, yang dipertahankan hanyalah bangunan utamanya. Maka dengan segera dia memasuki rumahnya. Tapi rupanya rumahnya terkunci, padahal tidak biasanya rumahnya terkunci di siang hari. Maka dia pun mencoba mengetuk pintu. Setelah menunggu beberapa detik, pintu pun terbuka. Namun bukan Ibu tiri ataupun Bawang putih yang membukakan pintu, melainkan orang lain. Dan orang lain itu malah bertanya.

“Maaf Anda siapa? Ada keperluan apa?”

“Saya Bawang putih. Saya tinggal di sini dengan Ibu dan saudara saya, Bawang merah. Saya justru ingin bertanya Anda siapa?”

“Saya Kiranti, pelayan di rumah ini. Rumah ini sudah dijual kepada majikan saya dan saya lah yang bertuga mengurus rumah ini.”

“Maaf, bisa diulangi lagi? Kalau tidak salah dengar rumah ini telah di jual?”

“Benar. Memangnya anda darimana saja? Kenapa baru tahu?”

“Tapi saya pemilik sah rumah ini. Dan saya tidak menjual rumah saya.” Jawab barang putih dengan sedikit menaikann volume suaranya, sambil mencoba menahan emosi.

“Tapi itulah yang terjadi. Rumah ini sudah jadi milik majikan saya semenjak empat bulan yang lalu. Dan sudah hampir empat bulan pula saya tinggal di sini dengan suami dan anak saya.”

“Tapi.”

Bawang putih menghentikan perkataannya. Peraasaannya sangat kacau, apa yang sebenarnya terjadi selama dia pergi. Tapi seperti biasa, dia sangat tegar dan berusaha mencari jalan keluarnya.

“Kalau memang rumah ini sudah dijual, saya mau bertemu dengan pemiliknya. Saya ingin bertanya, bagaimana bisa rumah ini bisa terjual tanpa sepengetauan saya, pemilik aslinya.”

“Maaf tidak bisa”

“Kenapa”

“Karena majikan saya saat ini sedang tidak di rumah”

“Kalau begitu saya boleh menunggunya di dalam? Tapi saya mohon agar anda percaya bahawa saya pemilik rumah ini sebelumnya. Saya akan membuktikan pada anda bahawa saya mengenal seluruh bagian rumah ini. Dan saya yakin, setelah mendengar penjelasan saya, anda percaya bahwa saya pernah tinggal disini. Mungkin barang-baarng saya juga masih tertinggal disini.” 

Bawang putih melanjutkan penjelasnnya dengan menunjukan bagian-bagian rumah yang tidak mungkin diketahui sama orang luar, menyebutkan sejarah pembangunan rumahnya, dan penjelasn lainnya dan berharap kalau Kiranti akan percaya. Hampir 1 jam lamanya Bawang putih meyakinkan Kiranti dan mengajaknya berkeliling di sekitar halam rumahnya. Menujukan jenis-jenis pohon yang ditanam disitu, dan lainnya.

Melihat kesungguhan bawang putih dan mendengar pejelasan panjang lebar nya. Akhirnya Kiranti sedikit mempercayainya. Dia pun mempersilahakn bawang putih untuk masuk. Kiranti mempersilahkan bawang putih untuk berisitahat di salah satu kamar, yanag kebetulan dulunya adalah kamar bawang putih. Sedangkan kini, kamar tersebut biasanya digunakan sebagai kamar tamu. Sedangkan kamar tempat para pengurus rumah tidak di rumah utama. Di bagian belakang rumah, dibuatkan pavilion untuk tempat tinggal para pekerja sehigga sedikit terpisah. Kamar Utama yang dulu ditinggali orang tuanya, yang kemudian diganti Ibu tirinya digunakan sebagai kamar pemilik rumah yang baru.

Menjelang malam, Nampak dari kejauhan seorang pemuda tampan datang menunggangi kuda. Sepertinya bawang putih pernah mengenalnya, namun dia lupa dimana. Semakin dekat, semakin jelas pula wajah sang pemuda tampan yang tak lain adalah sang pangeran yang pernah ditolongnya. Namun berhubung sang pangeran tidak pernah menyebutkan identitasnya, maka dia pun belum tahu sampai saat ini kalau pria yang ditolongnya adalah seorang pangeran. Melihat sang pangeran, bawang putih teringat mimpinya 6 bulan lalu. Mimpi yang masih diingatnya sampai sekarang karena begitu berkesan.

Sang pangeran turun dari kudanya. Nampak sorang pria membawa kudanya ke arah kandang, sedangkan sang pangeran sendiri langsung menuju rumah. Bawang putih semakin bergetar hatinya. Entah perasaan apa yang menghampirinya. Dia seolah dibuat jatuh cinta pada sang pangean. Padahal ini baru pertemuan keduanya. Mungkinkah pangeran adalah jodohnya? Bawang putih mulai berangan. Tapi kalau perasaan suka tersebut hanya dari satu belah pihak, maka dia harus siap menerima resiko cintanya bertepuk sebelah tangan. 

Selasa, 10 Oktober 2017

Bawang Putih (Part 2)

Bawang putih memulai harinya dengan memasak untuk sarapan Ibu tiri dan Bawang merah. Nasi goreng dengan telur mata sapi akhirnya selesai dia hidangkan. Sedangkan untuknya, cukup buah-buahan saja sebagai menu sarapan. Kebetulan di sekitar rumahnya banyak sekali pohon buah. Ada nagka, papaya, pisang, sirsak, jeruk, durian, manggis, rambutan, sawo, belimbing, jambu biji, jambu air, bisbul, dan masih banyak yang  lainnya. Ayahnya sangat suka menanam pohon semasa hidupnya. Setiap membeli buah-buahan dia semaikan bijinya dan setelah tumbuh, ditanamnya di sekeliling halaman rumahnya. Di tanah seluas 5 hektar, cukup untuk menanam berbagai jenis buah-buahan, sayur-mayur, tanaman obat, dan aneka tanaman kehidupan lainnya, bahkan aneka bunga yang ditanam mendiang Ibunya. Kotoran dan air kencing hewan ternak dijadikannya pupuk organik. Jadi, meskipun hidup mereka tidak bergelimang harta, tapi mereka berkecukupan dalam memenuhi kebutuhan harian.

Melakukan pekerjaan rutin tiap hari, kadang membuat bawang putih bosan. Membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci, memasak, dan menyetrika menjadi rutinitas kesehariannya. Untungnya, bawang putih memiliki banyak hobi yang biasa dia salurkan di waktu senggangnya. Ibu tiri dan Bawang merah tidak pernah mempermasalahkannya selama tugas utama dikerjaannya dengan baik. Menjahit, merawat bunga, memancing dan meracik parfum merupakan sebagian kecil dari hobinya. Bawang putih termasuk gadis yang cepat mempelajari sesuatu. Meskipun terlihat seperti tertindas, sebenarnya dia gadis yang sangat kuat dan tangguh. Dia bahkan bisa berkuda dan berenang. Namun sayang, kuda peliharaannya sudah dijual oleh Ibu tirinya.

Aktivitas yang terlalu padat dan hanya dikerjakan sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga membuat bawang putih tidak bisa merawat kebun sayurannya. Lahan bekas kebun sayuran dibiarkannya kosong. Bawang putih yang ditinggal mati ibunya di usia sembilan tahun dan dua tahun kemudian ayahnya pun meninggal, membuat dirinya belum mempunyai keahlian dalam bercocok tanam.  Sebenarnya dia ingin menanam sayuran sendiri, namun dia belum tahu caranya. Ketiak meminta ijin belajar dengan penduduk lainnya, Ibu tiri melarangnya. Bahan sayuran biasanya dibeli Ibu tiri di pasar. Harga sayuran yang murah membuat Ibu tiri tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja.  

Bawang putih pun teringat nenek yang tinggal di hutan larangan. Kalau tidak salah, sang nenek menanam berbagai macam sayuran di pekarangan rumahnya. Mungkin bawang putih harus pergi belajar cara bercocok tanam pada sang nenek. Haruskah bawang putih meminta izin pada Ibu tiri untuk menginap di rumah nenek? Sang Ibu pasti tidak akan mengizinkannya, apalagi mengingat nenek sudah memberikan labu berisikan binatang berbisa. Bawang putih pun mengurungkan niatnya meminta izin dan berencana untuk langsung pergi saja menemui sang nenek.

Sudah satu bulan lebih bawang putih tidak bertemu dengan sang nenek, yang sempat bawang putih anggap sebagai Ibu peri. Haruskah bawang putih memastikan sang nenek sebagai Ibu peri atau penyihir jahat? Tapi, sejauh ini dia dan keluarganya baik-baik saja. Jadi, tidak penting apakah sang nenek seorang Ibu peri atau nenek sihir. Yang penting sekarang, bagaimana caranya agar dia bisa mempelajari cara bercocok tanam sayurang dari sang nenek. Semoga sang nenek masih ingat padanya.

Pagi hari sekali bawang putih pergi untuk menemui sang nenek. Dia pergi begitu saja seperti sedang melarikan diri. Dengan membawa lima helai pakaian, dia merasa cukup untuk persediaan menginap selama 1 minggu. Tak lupa dibawanya sekeranjang jeruk dan rambutan yang kebetulan saat itu sedang berbuah untuk dijadikan oleh-oleh bagi sang nenek.

Menjelang tengah hari, bawang putih sudah sampai di rumah nenek. Sang nenek tampak sedang beristiahat di depan teras rumahnya. Maka bawang putihpun langsung menemui sang nenek.

“Permisi Nek, apakah nenek masih ingat dengan saya?” Tanyanya

“Tentu masih ingat Cu, kamu Bawang putih kan?”

“Iya Nek. Saya senang kalau nenek masih ingat.”

“Nenek juga senang kamu datang berkunjung lagi. Bagaiman keadaan keluargamu”

“Sehat Nek”

“Nenek kira sudah mati. Hehehe.”

“Lho, kenapa nenek berkata seperti itu?”

“Soalnya labu yang mereka ambil berisikan binatang berbisa. Hanya orang rakus lah yang mengambil labu paling besar berisikan ular dan teman-temannya.”

“Hmm… Sudah saya duga”

“Jadi kamu sudah menduganya? Kamu benarbenar gadis yang pintar dan pemberani.”

“Kenapa nenek melakukan itu? Nenek hampir saja mencelakai Ibu tiri dan Bawang merah”

“Itu memang tujuannya”

“Kenapa?”

“Karena nenek tidak suka mereka, dan ingin menolong kamu juga.”

“Nenek tidak perlu repot-repot. Saya bisa menjaga diri ko.”

“Jadi bagaimana mereka bisa bertahan hidup?”

“Tentu saja karena saya tolong mereka, Nek’”

“Kenapa tidak kamu biarkan saja mereka mati?”

“Kalau mereka mati di rumah, nanti saya yang repot. Saya bisa saja dianggap pembunuh tunggal kalau saya satu-satunya yang selamat dari serangan hewan berbisa itu. Selain itu, saya tidak mau menyakiti siapapun. Meskipun Ibu tiri dan bawang merah jahat, namun saya percaya bahwa mereka masih punya sisi baik yang mungkin belum saya ketahui. Saya sudah tidak mau berburuk sangka lagi sama orang lain Nek. Setiap saya berburuk sangka, saya malah selalu ditolong sama mereka. Saya jadi menyesal dan merasa bersalah. Sya tidak suka dengan perasaan itu”

“Baiklah itu semua tergantung keputusanmu. Terus ada keperluan apa kamu ke sini? Apakah kamu tidak takut dengan nenek?”

“Kenapa saya harus takut nek? Selama ini nenek selalu baik terhadap saya. Kalaupun nenek mau berbuat jahat, sudah dari dulu saya dibuat celaka. Lalu mengenai maksud kedatangan saya kemari, yaitu ingin mempelajari cara bercocok tanam sayuran sama Nenek. Saya lihat kebun nenek penuh dengan sayuran segar. Sedangkan saya tidak pernah berhasil menanam sayuran”

Dan percakapan mereka pun berlanjut sampai hari menjelang sore.


Sang Nenek pun berbaik hati dan mau mengajarkan Bawang putih cara bercocok tanam. Namun waktu satu minggu yang bawang putih rencanakan rupanya tidak cukup untuk mempelajari semua teknik. Setidaknya membutuhkan waktu 5 bulan bagi bawang putih untuk belajar. Jadi dia bisa mempelajri pula pengolahan pasca panen. Maka, bawang putih pun menyanggupinya. 

Minggu, 08 Oktober 2017

Bawang Putih


Setelah kematian ayahnya, bawang putih diperlakukan layaknya pembantu oleh Ibu dan saudara tirinya, bawang merah. Setiap hari, dia yang mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mencuci pakaian, menyapu, dan sebagainya. Padahal, rumah yang mereka tinggali adalah rumah warisan orang tuanya. Namun saat Ayahnya meninggal, usia bawang putih masih terlalu muda untuk mengetahui kenyataan sesungguhnya.

Rumah mereka cukup terisolir, jauh dari tetangga. Jarak dari rumah terdekat saja mencapai 1 km. Almarhum ayahnya yang seorang tukang kayu sengaja membuat rumah jauh dari tetangga karena menyukai ketenangan alam di kaki bukit, namun dekat dengan sungai sehingga memudahkan ketika mencuci, dan memenuhi kebutuhan air untuk berbagai keperluan lainnya. Mereka memiliki halaman yang luas yang ditanami dengan aneka bunga berwarna warni, sayuran, bahkan pohon buah-buahan. Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, mereka memelihara ayam, bebek, sapi, dan kambing. Meskipun terisolir, tapi mereka bisa hidup aman dan tentram karena tingkat kriminalitas sangat rendah di daerahnya.

Namun setelah ayahnya meninggal, kini bawang putih hidup merana bagaikan seorang asisten rumah tangga. Sapi dan kambing sudah habis dijual oleh ibu tirinya. Hanya tersisa beberapa ayam saja karena mudah dipeihara dan harganya yang murah. Karena tidak bekerja, Ibu tiri bawang putih banyak menjual barang-barang peninggalan orang tua bawang putih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Usia yang sudah tidak muda, membuat sang Ibu tiri susah mencari suami baru. Sedangkan bawang merah yang sudah terkenal pemalas, membuat orang sekampung malas untuk menikahinya.

Sebenarnya sudah banyak orang yang ingin melamar bawang putih, namun Ibu tiri bersikeras untuk tidak menikahkan bawang putih sebelum bawang merah menikah. Usia bawang merah memang setahun lebih tua dibandingkan usia bawang putih, namu kalau keondisi seperti itu, bisa saja mereka menjadi perawan tua semur hidup.

Bawang putih jarang berinteraksi dengan penduduk sekitar karena kesehariannya sudah terlalu sibuk mengerjakan semua tugas rumah tangga. Ibu tirinya akan marah besar apabila melihat bawang putih berinteraksi dengan penduduk lain dan menganggap kalau bawang putih sudah berleha-leha, padahal banyak pekerjaan yang belum diselesaikan.

Seperti biasa, setiap pagi bawang putih mencuci pakaian di pinggir sungai. Mungkin karena kelelahan, akhirnya bawang putih sedikit mengantuk ketika mencuci. Akibatnya selendang merah milik Ibu tiri lepas dari genggamannya dan hanyut. Bawang putih merasa ketakutan saat itu, karena sudah pasti Ibu tiri akan memarahi dan menghukumnya kalau sampai seledang sutra kesayangan Ibu tirinya itu hilang. Dengan segera bawang putih pergi mencari selendang tersebut, namun setelah mencari hampir satu jam lamanya, selendang tersebut tidak juga dtemukan. Akhirnya bawang putih menyerah, menyelesaikan mencuci dan kembali ke rumah dengan perasaan galau.

Sesampainya di rumah dan menceritakan kronologis kejadian, Ibu tiri sangat marah luar biasa. Dia membanting gelas yang sedang digenggamyua. Bawang putih merasa ketakutan saat itu dan meminta maaf. Namun Ibu tirinya tidak peduli, dia meminta bawang putih untuk mencari selendang itu dan melarangnya untuk pulang apabila selendang tersebut belum ditemukan. Karena sudah tidak tahan dengan omelan Ibu tiri, bawang putih pun segera pergi untuk mencari selendang yang hilang tadi.

Bawang putih terus mencari menyulusuri sungai, berharap kalau selendang tersangkut di suatu tempat. Namun setelah sekian lama mencari, selendang tersebut tidak juga ditemukan. Hari sudah hampir sore, namun bawang putih masih belum juga menemukan selendang. Dia merasa takut pulang ke rumah kalau selendang belum ditemukan. Tanpa disadari, bawang putih sudah memasuki kawasan hutan larangan. Hutan tersebut katanya sangat angker dan tidak seorangpun penduduk skekitar yang berani masuk ke dalam hutan itu. Namun bawang putih yang pikirannya sedang kalut, tetap memberanikan diri masuk hutan tersebut karena baginya, Ibu tirinya lebih menakutkan daripada hutan yang ditakuti tersebut.

Kondisi pinggiran sungai di dalam hutan ternyata sudah tidak bisa ditelusuri lagi. Kondisi sungai yang mulai dalam membuat bawang putih tidak bisa berjalan menelusuri sungai. Akhirnya dia memilih jalan sedikit memutar. Tanpa disengaja, dia melihat sebuah gubuk di tengah hutan. Karena merasa lapar, dia akhirnya berfikir untuk meminta sedikit makanan dari penghuni gubuk itu. Sejak pagi, dia belum sempat makan apapun. Untuk mengisi perutnya yang keroncongan, dia hanya meminum air sungai saja. Karena hari sudah sore, maka diapun memberanikan diri mendekai gubuk tersebut.
Setelah mengetuk pintu, maka terbukalah pintu gubuk. Dari luar terlihat seorang nenek-nenek dengan punggung yang bungkuk membukakan pintu. Bawang putih merasa lega karena yang tinggal di gubuk tersebut adalah seorag nenek-nenek. Lalu si nenekpun memeprsilahkan bawang putih untuk masuk. Tanpa perlu diminta, ternyata si nenek baik hati menawarkan ubi rebus kepada bawang putih. Dengan lahap bawang putih memakan ubi tersebut.

Rupanya si nenek sedang melipat baju, dan tanpa sengaja bawang putih melihat selendang Ibu tirinya di dalam tumpukan pakaian si nenek. Tanpa bermasksud menyinggung si nenek, bawang putih bertanya.

“Wah selendang nya bagus sekali Nek, Ibu saya juga punya selendang seperti itu di umah”

“Sebeneranya ini bukan selendang milik Nenek” jawab si Nenek

“Tadi pagi nenek menemukan selendang ini terhanyut di pinggir sungai ketika nenek sedang mencuci” lanjutnya

“Maaf Nek, sebenarnya sejak dari tadi saya mencari selendang Ibu saya yang mirip dengan selendang yang nenek temukan tadi. Tapi kalau selendang Ibu saya ada tanda rajutan bunga matahari di salah satu sudutnya. Kalau boleh saya tahu, apakah di selendang itu ada rajutan bunga mataharinya? Kalau iya, mungkin saja itu selendang Ibu saya yang terhanyut tadi pagi” Jawab bawang putih panjang lebar agar si nenek percaya.

Rupanya setelah diperiksa, selendang yang dimaskud adalah selendang Ibu tiri bawang putih. Dengan peraasan lega, akhirnya bawang putih bisa pulang dan memberikan selendang ke Ibu terinya. Namun, di luar terdengar suara gemericik air hujan dan dilanjutkan dengan hujan yang begitu derasnya. Maka si nenek pun menwarkan agar bawang putih menginap saja malam ini di rumah nenek karena merasa kasihan dengan bawang putih. Sebenarnya bawang putih mau saja menginap disitu, tapi takut merepotkan. Namun mendengar nenek tidak merasa direpotkan dan malah senang karena malam itu akhirnya sang nenek ada yang menemani, maka bawang putih pun memutuskan untuk menginap semalam.

Seperti biasa, bawang putih sudah bangun begitu sinar matahari mulai bersinar. Kondisi rumah yang gelap, membuat bawang putih tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Jadi begitu sedikit terang, dia mulai bangun dan beraktivitas. Karena merasa sudah ditolong oleh sang nenek, maka bawang putih berniat membalas perbuatan nenek dengan melakukan pekerjaan rumah semampunya. Dia pencuci peralatan makan yang digunakan kemarin, menyapu lantai, mengepel, dan sebagainya. Sepertinya si nenek masih tidur. Usia yang sudah lanjut mungkin membuat nenek membutuhkan waktu lebih lama untuk beristirahat.

Betapa kagetnya sang nenek ketika bangun. Rumahnya kini sudah bersih dan rapih. Sebagai ucapan terimakasih, sang nenek memberikan sebuah labu. Bawang putih disuruh memilih labu yang ditanam di halaman rumah sang nenek. Maka bawang putih pun memilih yang berukuran sedang karena kalau terlalu besar, pasti nanti akan repot membawaa ke rumahnya. Setelah semua selesai, bawang putih pun pamit.

Bawang putih pulang menulusuri jaln yang kemarin ditempuh. Lalu tiba-tiba dia melihat seseorang yang sedang naik kuda, melewatinya. Rupanya itu sang pangeran yang sedang berburu rusa. Namun tiba-tiba kuda pangeran tersandung akar pohon yang menyembul. Dan sang pangeranpun jatuh terpental mengenai batang pohon. Sepertinya kakinya terkilir dan dia tidak bisa bangun. Mungkinkah sang pangeran terkena kutukan karena berburu di hutan terlarang?

“Ki Sana baik-baik saja?” Tanya bawang putih

“Sepertinya kakiku terkilir.” Jawab sang pangeran

“Maaf ki sana siapa ya? Apa yang ki sana lakukan disini?”

“Saya hanya seorang pemburu yang sedang berburu untuk mencari makan” Jawab sang pangeran menyembunyikan identitasnya karena dia tidak mau kalau bawang putih akan mengambil keuntungan ditengah ketidakberdayaan sang pangeran.

“ Kenapa ki sana berburu di sini? Tidak tahukan ki sana kalau ini masih berada di kawasan hutan terlarang? Tidak boleh dilakukan aktivitas mengganggu hutan ini. Bahkan pihak kerajaanpun melarang rakyat melakukan aktivitas di sini. Kalau tidak, maka akan terkena sial atau kutukan.”

“Aku tidak tahu kalau sudah memaski hutan larangan. Tadi ketika asik mengejar rusa, tiba-tiba saja aku sudah sampai sini. Nah kamu sendiri apa yang kamu lakukan di sini? Apakah kamu peri penjaga hutan?

“Saya hanya seorang manusia biasa saja Ki Sana. Saya sedang dalam perjalanan pulang, hanya saja jalan yang harus saya lewati memaksa melewati hutan ini” Tanpa menceritakan kejadian sebenarnya, bawang putih menjawab. Menurutnya tidak pantas menceritakan kejadian yang menimpanya kepada orang yang baru dikenalnya itu.

Maka karena merasa Ibu, bawang putih segera bergegas untuk menolong sang pangeran. Dengan sedikit pengetahuan, bawang putih membuat ramuan dari tanaman liar dan membalut luka sang pangeran. Dia juga membalut kaki pangeran dengan menyobek sebagian kain panjang yang membalut tubuh langsingnya.

“Kalau kamu masih ingin melanjutkan perjalanan, lanjutkan saja. Tidak usah mengkhawatirkanku, mungkin sebentar lagi temanku akan datang mencariku. Terimakasih banyak karena sudah menolongko” Jawab pangeran.

“Baiklah kalau begitu Ki sana, saya akan melanjutkan perjalanan saya. Semoga teman ki sana bisa segera datang dan menolong ki sana. Kalau begitu, saya pamit duluan.”

Bawang putih pun melanjutkan perjalanannya. Dia tidak tahu kalau orang yang ditolongnya adalah seorang pangeran. Namun begitulah sifat bawang putih, menolong orang tanpa pamrih, meskipun dia tidak mengenalnya. Namun entah kenapa, jantung bawang putih serasa bergejolak. Pemuda yang ditolongnya memang tampan, dan sudah sewajarnya jika bawang putih menyukai wajah tampan sang pangeran. Namun apalah daya, dia tidak mungkin mengajak berkenalan dulu. Dia pun tidak tahu nama pemuda tampan tadi, karena sang pangeranpun tidak menanyakan namanya. Jadi dia merasa segan kalau dia yang bertanya nama pangeran duluan. Akhirnya, dia menganggap bahwa pertemuan itu bisa jadi merupakan pertemuan pertama dan terakhirnya. Dia tidak mau terlalu memikirkannya. Tapi, hati tidak bisa dibohongi. Ada perasaan aneh yang mendatangi bawang putih. Perasaan yang belum pernah dirasakannya selama ini.

Sementara iu, berselang beberapa waktu, penggawa sang pangeran akhirnya datang dengan bala bantuan. Betapa kagetnya mereka melihat sang pangeran tergeletak di bawah pohon sedang terluka. Maka mereka segera membawa pangeran keluar dari hutan larangan degan segera. Pangeranpun tidak menceritakan kejadian pertemuan tadi dengan seorang gadis yang menolongnya.

Selama perjalanan pulang, pikiran sang pangeran dipenuhi rasa penyesalan. Memang wajah bawang putih tidak secantik putri-putri kerajaan yang pernah dilihatnya, namun bagi seorang rakyat biasa, wajah itu termasuk cantik. Meskipun tidak menggunakan riasan, wajah bawang putih sangant cantik flawless dan aroma tubuhnya sangat wangi. Pangeran merasa menyesal kenapa dia tidak bertanya nama gadis yang menolongnya tadi. Dimakanah dia tinggal? Siapakah nama orang tuanya? Apakah masih gadis atau sudah janda? Tapi pangeran tidak mau ambil pusing. Dia pun mengganggap kalau pertemuan itu bisa jadi pertemuan pertama dan terakhir kalinya. Selain itu, sang pangeran sudah dijodohkan dengan putri dari kerajaan lain, jadi perasaannya terhadapa bawang putih, mungkin hanya perasaan karena penasaran saja.

Menjelang tengah hari, bawang putih sudah sampai dirumah. Meskipun baru ditinggal satu malam, rumahnya sudah sangat berantakan. Sudah asti Ibu tiri dan bawang merah tidak melakukan pekerjaan rumah ketika bawang putih ergi. Maka bawang putih pun segera memberikan selendang milik ibu tirinya. Sang Ibu tiri segera mengambil selendang tersebut dan menyuruh bawang putih bekerja seperti biasa. Tanpa ucapan terimakasih, Ibu tiri pergi begitu saja. Bawang putih merasa heran, kenapa ibu tirinya itu tidak bertanya semalam dia menginap dimana? Dengan siapa? Apakah sudah makan atau belum? Tapi bawang putih memakluminya saja. Sifat Ibu tiri memang sudah seperti itu, tidak dimarahi saja bawang putih merasa bersyukut.

Bawang putih pun segera pergi ke dapur membawa labu yang diberikan nenek. Dia bermksud untuk mengukus labu tersebut dan memakannya. Ketika dibelah, ternyata isi labu berupa perhiasan. Ada gelang mutiara, kalung emas dengan liontin permata, anting batu rubi, dan masih banyak perhiasan lainnya. Tentu saja bawang putih merasa kaget dan sedikit takut. Mungkinkah nenek yang ditolongnya semalan adah seorang Ibu peri atau penyirhir jahat? Tapi sepertinya dia seorang ibu peri. Mana mungkin penyihir jahat akan memberikan dia perhiasan.

Bawang putih segera membungkus perhiasan tadi agar tidak diketahui oleh Bawang merah dan Ibu tiri. Namun rupanya, bawang merah sudah menyaksikan perhiasan itu. Segera bawang merah lapor kepada Ibunya dan bawang putih pun dipanggil Ibu tiri untuk dimintai keterangan.

Awalnya, bawang putih dituduh sudah mencuri perhiasan tadi, tapi setelah bawang putih menceritkan cerita sebenarnya, akhirnya ibu tiri sedikit mempercyainya. Namun Ibu tiri meminta bawang putih untuk pergi mengantar bawang merah menemui nenek di hutan larangan, agar bawang merahpun bisa mendapat labu berisikan perhiasan seperti bawang putih. Maka bawang putihpun berjanji akan mengantar bawang merah keesokan harinya.

Keesokan harinya, mereka bertiga pun pergi menuju rumah nenek di hutan larangan. Meskipun jarak sebenarnya bisa ditempuh dalam setengah hari perjalanan, namun karena bawang merah dan ibu tiri ikut serta, maka perjalanan yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Ibu tri dan bawang merah banyak beristirahat. Padahal mereka tidak membawa apapun. Bawang putih lah yang membawa bekal dan persediaan lainya. Setelah sore, mereka pun sampai di rumah nenek.

Bawang putih memperkenalkan Ibu tiri dan bawang merah kepada nenek dan bermaksud berterimakasih karena sudah menemukan selendang yang kemarin ditemukan sang nenek. Sang nenekpun merasa berterimaksih dan menceritakan kebaikan bawang putih yang sudah menolong memberishkan rumahnya kepada Ibu tiri. Ibu tiri menjelaskan bahwa bawang putih memang sangat rajin bersih-bersih dan itu sudah menjadi hobinya.

Menjelang malam, merekpun segera tidur. Si nenek tidak mempunyai alat penerangan, jadi ketika malam tiba, dia tidak melakukan aktivitas apapun dan langsung tidur. Maka yang lainpun ikut tidur begitu malam tiba.

Sebelum pulang, Ibu tiri memuji tanaman labu milik nenek yang sangat subur. Apalagi kemaren sore sang nenek memberikan labu rebus untuk mengganjal perut mereka. Rasanya yang sangat manis, membuat ibu tiri menanyakan resep yang digunakan sang nenek. Nenek rupanya tidak menggunakan resep apapun, rasa manis merupakan rasa alami dari labu dan dia hanya mengukusnya saja. Ibu tiri pun meminta labu yang ditaman nenek untuk dibawa pulang. Maka nenek mempersilahkannya. Ibu tiri mengambil 3 buah labu yang paling besar untuk dibawa pulang. Masing-masing dibawa oleh mereka. Tapi setelah rumah nenek tidak terlihat, bawang putih lah yang disuruh membawa ketiga labu tadi. Namun entah kenapa, labu yang besar tadi tidak terasa berat dijinjing bawang putih. Maka tanpa keberatan, bawang putih membawa ketiga labu tersebut.

Sesampainya dirumah, Ibu tiri dan Bawang merah segera membuka labu tersebut. Bawang merah disuruhnya pergi menjauh karena mereka tdak ingin bawang putih mengetahui isi labu tersebut. Namun rupanya, isi labu bukan berisikan perhiasan dan permata melainkan binatang berbisa. Dengan segera, ibu tiri dan bawang merah melemparkan labu-labu tadi. Merek langsung naik ke atas tempat tidur dan berteriak meminta tolong. Bawang putih yang merasa kaget, datang menolong. Untuknya bawang putih sudah terbiasa menghadapi ular, kalajengking, lipan, dan bianatang berbisa lainnya. Dengan menyeprotkan obat anti serangga, garam dan menyalakan api, dia berhasil mengusir binatang tadi.

Bukannya bersyukur karena telah ditolong, mereka malah memarahi bawang putih karena sudah membohongi mereka dan membuat mereka hampir terbunuh. Bawang putih pun dihukum dan disuruh menyerahkan perhiasan miliknya kepada mereka. Dengan berat hati, bawang putih menyerahkan perhiasan yang dia peroleh dari isi labu yang diberikan oleh nenek. Perhiasan itu juga bukan miliknya, jadi tidak masalah kalau diambil oleh Ibu tiri dan bawang merah. Sebagai hukuman, bawang putih tidak diberikan makan pada hari itu. Karena sudah biasa tidak makan seharian, maka hukuman tadi tidak begitu berat dirasakan bawang putih.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, bawang putihpun kembali ke kamarnya. Sekalipun sering dibentak, dimarahi, dihukum, dan diperlakukan kasar lainnya, bawang putih tidak pernah menangis. Hatinya terlalu tegar menghadapi cobaan hidup. Menangispun tidak akan menyelesaikan masalah malah membuat dirinya lemas. Maka malam itu, dia langsung tertidur begitu badannya direbahkan di atas tempat tidurnya.

Dalam tidur, bawang putih bermimpi bertemu lagi dengan pemuda yang ditolongnya. Namun pakaian yang dikenakan pemuda itu sangat bagus layaknya seorang pangeran. Bawang putih juga memakai pakaian yang sangat bagus layaknya seorang  putri raja. Mereka berdansa di bawah sinar rembulan malam. Jarak yang sangat dekat membuat bawang putih bisa melihat dengan jelas wajah tampan sang pangeran, merasakan dadanya yang bidang, menciup bau badannya yang wangi, bahkan aroma nafasnyapun sangat menyegarkan. Merkea asik berdansa diringi music yang entah datang darimana. Berada dalam dekapan sang pangeran membuat bawang putih nyaman. Bawang putih menyandarkan kepalanya di atas dada bidang sang pengeran. Lalu ketiak bawang putih menengadah menatap wajah pangeran yang sangat tampan, tanpa berpikir panjang bawang putih menmpelkan bibirnya dengan bibir sang pangeran. Dan sat itulah dia terangun dari mimpinya.

Sungguh mimpi yang sangat indah, pikirnya. Itu mereupakan pengalam pertamanya dekat dengan seorang laki-laki. Bawang putih tidak mengerti kenapa dia bisa bermimpi seperti itu. Lalu munculah perasaan rindu dengan pemuda yang telah ditolongnya itu. Dia berdoa semoga suatu saat dapat dipertemukan lagi dengan pemuda dalam mimpinya. Mungkinkah itu pertanda kalau pemuda tadi akan menjadi suaminya di masa yang akan datang? Bawang putih hanya bisa berharap dan melanjutkan tidurnya dan berharap semoga sang pujaan hati bisa mampir lagi dalam mimpinya. Namun sampai pagi menjelang, bawang putih hanya tertidur, tanpa bermimpi.

Sementara itu di dalam istana, sang pangeran terbangun dari mimpinya. Rupanya dia mengalami mimpi yang sama dengan bawang putih, berdansa di bawah sinar bulan purnama, dan terbangun karena bawang putih mengecup bibirnya. Pangeran lalu menyentuh bibirnya, sedikit menjilatnya, dan masih terasa rasa cherry dalam bibirnya. Mungkinkah ini rasa bibir bawang putih yang tadi berada dalam mimpinya? Dia tidak mau berhaslusinasi lebih lanjut dan segera bergegas keluar dari ranjangnya menuju lemari. Dia mengambil sobekan kain milik bawang putih yang disobek dari kain panjangnya. Mencium kain tersebut yang entah kenapa, meskipun sudah dicuci, masih mengeluarkan aroma wangi bunga. Aroma yang sama yang dia cium dari tubuh gadis dalam mimpinya. Setelah itu, dia membawa potongan kain tersebut ke atas tempat tidurnya, menciumnya dan kembali tidur, berharap akan bertemu kembali dengan gadis dalam mimpinya tadi. Tapi, sama dengan bawang putih, sang pangeran tidak memimpikan lagi bawang putih disisa tidurnya.


(Bersambung…)

Mengamati panen madu lebah liar

Keringatku bercucuran. Di antara semak-semak, Aku bersembunyi. Rasa penasaranlah yaang membuatku bertahan di posisi ini. Tim yang akan memanen lebah liar sudah berjalan mendekati pohon sialang 30 menit lalu. Tapi sampai sekarang, tanda-tanda mereka akan memanjat pohon sialang yang dijadikan sarang lebah belum juga terlihat. Ini merupakan pengalaman pertamaku melihat orang memanen madu lebah liar. Lebar tersebut termasuk spesies Apis dorsata, salah satu spesies lebah yang banyak terdapat di daerah Riau dan Sumatera Barat. Meskipun berjarak sekitar 50 meter, tempat persembunyianku ini kuanggap jarak yang aman dari serangan Lebah. Aku punya hanya bisa diam dan berdoa semoga pemanjat selamat.

Tinggal sepuluh menit lagi menjelang tengah hari, saat kulihat seseorang mulai memanjat pohon. Dengan menggunakan pakaian serba hitam layaknya ninja, dia memanjat. Resiko yang dihadapi seorang pemanjat pohon untuk mencari lebah memang sangat tinggi, karena nyawa yang menjadi taruhannya. Selain harus memiliki keahlian memanjant, dia juga harus berani menghadapi amukan lebah liar yang terusik ketika sarang mereka diganggu.

Karena sarang lebah biasanya tersebar dari dahan satu ke dahan lainnya. Maka pemanjat harus melakukan nya dengan sangat sabar dan hari-hari. Setelah mengambil madu dari dahan satu, kemudian harus pindah ke dahan berikutnya. Pohon yang akan diambil madunya kali ini, sebenarnya belum mencapai masa pane raya. Hanya Ada belasan sarang saja yang terlihat dari tempat ku bersembunyi. 

Madu yang diambil kali ini akan kugunakan untuk melakukan penelitian. Meskipun masih calon peneliti, alhamdulillah Aku sudah diberikan tanggung jawab untuk memegang judul penelitian mengenai identifikasi zat tambahan dalam madu palsu/campuran. Sebenarnya ini tugas yang berat, namun Aku menyanggupinya karena hidup harus berani mengambil resiko. Kenapa sangat sulit? Karena sejauh ini, penelitian untuk menguji keaslian madu sudah banyak dilakukan, namun cara paling efektif belum juga ditemukan. Pengijian kemurnian madu dilakukan di laboratorium yang memiliki peralatan canggih dengan peralatan yang canggih juga tentunya. Bahkan di Indonesia, hanya laboratorium kimia UI yang sudah melakukan penelitian ini. Sedangkan laboratorium tempatku bekerja, peralatannya masih sangat sederhana. Tapi di sinilah tantangannya, apakah Aku bisa menemukan cara yg efektif untuk menguji kemurnian madu? Tentu saja belum, aku tidak boleh berhayal terlalu tinggi, nanti sakit begitu menyadari kenyataan dan terjatuh. Namun yg bisa kulakulan hanyalah menguji zat-zat yang ditambahkan dalam pembuatan madu palsu. Beberapa zat digunakan dalam pembuatan madu campuran/palsu sudah diketahui, beberapa zat ada yang meimblkan reaksi apabila ditambahkan reagent. Namun bagaimana hasil reaksi terhadap madu campuran, belum diketahui. Tugasku lah untuk membuktikannya. Itu sih harapanku.

Kembali ke suasana pengintaian, dari jarak 50 meter pun ternyata sudah terdengar suara amukan lebah yang sedang tergaggu ketika pemanjat mulai memotong sarang yang mengandung lebah. Rasa penasaranlah yang membuatku melakukan pengamatan ini. Selain itu, aku harus memastikan bahwa madu yang kukumpulkan dalam perjalan dinas kali ini benar-benar asli dari sarang nya?

Dua puluh menit berlaku, sepertinya sudah banyak sarang yang diambil madunya. Ternyata, lumayan cepat juga kerja para pemanen madu ini. Mungkin mereka memang harus gesit karena semakin lama mereka kerja, semakin tinggi resiko yang mereka tanggung. Padahal, para pemanjat ini usia nya masih tergolong muda. Ada yang berusia belasan, awal 20an dan hanya satu orang yang berumur akhir 30-an. Hanya satu orang yang memanjat, katanya yang berusia awal 20-an. Aku lupa menanyakan namanya, mungkin nanti saja setelah kegiatan selesai kami bisa berkenalan.

Tidak banyak yang dapat kulihat dari tempat pesembyianku. Namun Aku berhasil merekam proses pengambilan madu dengan kamera handphoneku dan mengambil beberapa gambar, meskipun hasilnya tidak begitu bagus. Kakiku sudah terasa kesemutan, haruskah Aku keluar dari tempat persembunyian dan pergi menjauh, lalu bersembunyi di dalam sejuknya mobil strada yang sudah pasti AC nya dinyalakan? Namun ketika kudengar suara amukan lebah, kuurungkan niatku. Aku takut, ketika berpindah tempat, sudah pasti akan mengeluarkan bunyi, dan itu bisa mengundang lebah untuk mendekat dan menyerang. 

Kakiku mulai terasa panas. Rupanya posisi kaki tidak terlindung dari sengatan sinar matahari. Segera kupindahkan ke posisi semuala, meskipun nanti pasti akan kesemutan lagi. Tapi tidak apa, daripada panas terbakar sinar matahari. Apalagi aku memakai sepatu bot yang terbuang dari karet, membuat kaki serasa berada di dalam sauna.

Kusekat keringat di pelipis dengan tangan. Untungnya Aku memakai jaket hood lengan panjang, jadi bagian lengan bisa kujadikan lap keringat. Meskipun sangat panas, apalagi warna nya hitam, tapi Aku berfikir positip saja, Aku bisa terlindung dari sengatan sinar matahari, terlindung dari sengatan lebah dan anggap saja kalau sedang berada di sauna. Selain itu, Aku sudah membawa pocari sweat, jadi ion tubuh yang keluar melalui keringat bisa tergantikan. Go ion.

Setelah 40 menit  berlalu, aku memutuskan untuk beranak saja dari tempat persembunyaian. Kulihat kiri kanan, rupanya rekan kerjakan sudah tidak ada. Maka dengan mengucapkan bismillah aku pun beranjak dari tempat persembunyaian menuju mobil yang terparkir lumayan jauh di pinggir jalan.

Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya sampai juga di mobil. Namun rupanya kondisi di mobil pun masih terasa panas meskipun ac nya dinyalakan. Maka kuputiskan untuk berteduh di bawah pohon mangium bersama rekan lainnya sambil menikmati pocari swear dan wafer Selamat. 

Seminar MAPEKI XX 2017

Seminar Nasional MAPEKI XX (Masyarakat Peneliti kayu ke-20) tahun 2017 mengambil tema “Kelestarian Hutan dan Produk Hasil Hutan untuk Pembangunan Berkelanjutan”. Acara ini dilaksanakan di Denpasar, Bali tanggal 25 September 2017 di Sunset Garden Convention Centre. Peserta mempresentasikan berbagai makalah dalam hal peran ilmu kayu dan hasil hutan dalam pembangunan Indonesia. Seminar MAPEKI XX memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk diskusi dan bertukar ide, melakukan kerjasama dan membentuk jaringan.
Pembicara kunci untuk seminar MAPEKI XX terdiri dari 3 (tiga) orang ahli di bidang Keilmuan, Bisnis, dan Birokrasi di bidang kehutanan dan Hasil Hutan. Peserta MAPEKI XX sebanyak 112 orang termasuk peneliti, pihak industri hasil hutan, dan instansi pemerintah dari seluruh Indonesia. Sebanyak 81 hasil penelitian di presentasikan dan 13 poster disajikan.
Acara dimulai dengan sambutan ketua seminar yaitu Dr. Tomy Listyanto. Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan rasa syukurnya karena acara MAPEKI XX dapat dilaksanakan di Bali dan bisa beriringan dengan  9th International Symposium of IWORS dan 9th PRWAC Conference and IAWAS Meeting. Beliau juga menyampaiakn rasa terimakasih kepada seluruh panitia yang sudah berusaha semaksimal mungkin agar acara ini dapat terlaksana dengan baik dan tidak mengecewakan. Hasil seminar juga direncanakan akan diterbitkan dalam jurnal elektronik yang terdaftar. Sambutan berikutnya disampaikan oleh ketua MAPEKI, Dr. Joko Sulistyo. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan bahawa MAPEKI akan menerbitkan wood research journal yang nantinya dapat diakses semua orang. Beliau juga menyampaikan rasa syukurnya karena seminar ini mendapat banyak dukungan dan sponsor dari beberapa pihak seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perum Perhutani, PT. Nusantara Sawit Persada, Asia Pulp and Paper, Mitsui Suitomo Insurace Group, Serayu Group, CV. Parta Wood, APRIL Group, Gesellschaft fur Internationalse Zusammenarbeit, dan PT. Rakabu Sejahtera yang merupakan salah satu perusahaan milik keluarga Presidaen Republik Indoenisa saat ini dan salah seorang alumni Fakultas Kehutanan UGM, Presiden Joko Widodo. Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Budiadi menyampaikan sambutan terakhir sekaligus membuka acara secara simbolis. Dalam sembutannya, beliau menyampaiakan bahwa pelaksanaan seminar MAPEKI yang ke 20 ini merupakan sebuah prestasi. Saat ini, MAPEKI juga semakin luas menjangkau forum ilmiah yang melibatkan bidang-bidang keilmuan lain, bukan hanya kayu dan non kayu. Seminar kali ini melibatkan industri hulu yang memproduksi bahan baku, industri pengolahan, bahkan bagian hilir sekali yakni dengan adanya keterlibatan dari bea dan cukai. Negara maju saat ini sudah menggunakan produk yang renewable dan Indonesia harus bisa mengikuti perkembangan jaman dan berharap pemanfaatan hasil hutan yang bernilai tinggi mendukung kemajuan di masa datang. Kita tidak boleh gentar dengan ancaman sistem ekonomi kapitalis yang menganggap penggunaan kayu dapat mengancam kelestarian lingkungan dan mengaggap pemanfaatan sebagai usaha eksploitasi bukan hanya renewable. Saat ini variasi bahan baku semakin banyak dan jenis lesser known benyak yang belum dilakukan budidayanya. Oleh karena itu, kita juga harus bisa melibatkan pihak lain agar tidak terjadi eksploitasi yang berlebihan yang dapat mengancam kelestarian. Jaringan komunikasi harus semakin diperkuat antar lembaga dan dapat melahirkan gagasan yang implementatif, efisien, dan lestari.
Setelah pembacaan doa, acara dilanjutkan dengan penyampaian presentasi oleh pembica kunci. Pembicara kunci yang pertama adalah Ir. Agus Prastawa MBA yang mewakili bidang bisnis. Beliau adalah Direktur Perencanaan dan Pembangunan Bisnis Perum Perhutani. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan “Stategi Perhutani dalam Menyediakan Kayu untuk Pembangunan Infrastruktur dan Perumahan”. Saat ini, Perum Perhutani mengelola 2.4 juta Ha yang terdiri dari 1.4 juta Ha lahan produksi, 0.6 juta Ha hutan lindung, dan sisanya hutan produksi terbatas. Jenis yang ditanam Perhutani meliputi jati, pinus, mahoni, sengon, sonokeling, dan mindi. Meskipun luasan hutan jati (500.000 m2) hampir 4 kali luasan pinus (121.000 m2), namun pendapatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari getah pinus mampu menyalip pendapatan dari kayu secara keseluruhan. Pembelian kayu juga sudah dipermudah melalui sitem online. Penggunaan sistem ini ternyata mampu memangkas biaya pembelian kayu oleh konsumen. Perhutani juga memiliki Pusat Penelitian dan Pengembangan di Cepu. Perhutani membuka peluang bagi para peneliti yang mau berkolaborasi dengan peneliti dari perum Perhutani di masa yang akan datang.  
Dalam bidang Keilmuan, yang menjadi pembicara kunci adalah Dr. Budiadi, S.Hut, M.Agr.Sc yang merupakan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Dalam kesempatan ini, beliau mempresentasikan “Pengembangan Agroforestri dalam Mendukung Pasokan Kebutuhan Kayu Berkualitas”.  Dalam kegiatan Agroforestry, kualitas kayu menjadi hal yang tidak diprioritaskan karena tidak ada tuntutan untuk menghasilkan kayu berkulitas. Perlu adanya peneliti yang mampu mengetahui kondisi optimum dari interaksi antar kayu dan non kayu. Dalam Agroforestery sering terjadi kekhawatiran di mana terjadi kompetisi antara kayu dan non-kayu. Mandat praktisi agroforestri lebih tinggi karena harus memperhatikan produksi selain kayu dan memanfaatkan lahan terbatas menghasilkan kondisi optimum.
Pembicara kunci yang terakhir disampaikan oleh Ir. Oentarto Wibowo, M.P.A, seorang Kepala Kantor Wilayah Jakarta, Direktorat Jendral Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Beliau memperesentasikan “Peran Teknologi Kayu dalam mendukung tugas dan fungsi bead an cukai pada perdagangan Internasional. Meskipunsaat ini lembaga bea cukai memiliki laoratorium tersendiri, namun kedepannya perlu kerjasama dengan peneliti dari kehutanan untuk mengamankan aset Negara dan melindungi dari penyelundupan. Dari pengalaman beliau, ternyata pengetahuan jenis kayu mampu mencegah penyelundupan narkoba yang dilakukan melalui bingkai lukisan yang diasuransikan.
Acara selanjutnya dilanjutkan dengan sesi pararel. Materi seminar dibagi ke dalam 4 ruangan dengan masing-masing kelompok, yang meliputi konversi biomaterial, rekayasa biomaterial, sifat dasar, dan kehutanan umum. Setiap kelompok menyertakan pembicara undangan. Presentasi disampaikan dalam beberapa sesi. Setiap sesi terdiri dari 4 presenter yang dimoderatori oleh seorang moderator.   

Jumat, 06 Oktober 2017

Merbau (Intsia palembanica, Miq)

Merbau (Intsia palembanica, Miq) merupakan salah satu jenis pohon. Di Indonesia, merbau mengarah pada dua jenis pohon yang berbeda spesies, yaitu Intsia bijuga dan intsia palembanica. Kedua spesies tersebut memiliki karakteritik yang hampir sama. Cara yang paling mudah untuk membedakannya adalah dengan melihat jumlah daun dalam satu tangkai. Instia bijunga hanya memiliki dua pasang anak daun dalam satu tangkai sedangkan Instsia paembanica memiliki tiga pasang daun atau lebih. 
Instsia palembancia merupakan satu dari delapan spesies Intsia yang tersebar luas mulai dari Afrika Timur dan Madagaskar di sebelah barat ke timur hingga Melanisia, Mikronesia, dan bagian utara Australia. Tiga spesiesnya terdapat di kawasan Malesia (Indo-Malaya, Indonesia, Filipina) dengan jenis Intsia bijuga yang tersebar paling luas. Karena tersebar luas, kayu ini memiliki nama lain sesuai daerah sebarannya seperti Vesi; V`ula; Tat-talun; Miraboo laut; Miraboo; Marbau; Makhamong; Lumpho; Lumpha; Lum-pho; Go nuoe; Borneo teak; Anglai; Merbau (United Kingdom); Lum-paw (Thailand); Moluccan ironwood (United Kingdom); Merbau (Netherlands); Kalabau (China); Kwila (Australia); Hintsy (Madagascar); Komu (New Caledonia); Kwila (Papua New Guinea); Gonuo (Vietnam); Ipil laut (Philippines); Ipil (Philippines); Merbau (Sarawak); Merbau (Indonesia); Mirabow (Sabah).
Dalam istilah kayu perdagangan internasional, merbau dikenal juga sebagai Borneo teak atau jati Kalimantan karena warna kayunya yang mirip dengan kayu jati. Kayu merbau biasanya digunakan untuk berbagai keperluan seperti membuat parket (flooring), furniture, kayu bangunan, decking dengan finger joins, panel, instrument musik, kapal, arang, container, dan lainnya. Selain digunakan kayunya, merbau juga dimanfaatkan bagian lainnya. Kayu merbau dilaporkan akan berwarna hitam apabila mengandung besi, hal tersebut dijadikan petunjuk untuk mengetahui tambang besi. Bagian kulit pohon dan kayu dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami. Kulit pohon dan daunnya juga digunakan sebagai bahan obat tradisional. Biji yang masih muda juga bisa dimakan di beberapa daerah.  
Pohon merbau  berukuran sedang sampai besar, tinggi bisa mencapai 50 m. Batang utamanya kadang tidak bercabang hinga ketinggian 22 m dengan diameter bisa mencapai 150 cm. Akar yang berfungsi sebagai penopang bisa mencapai kedalaman 4 meter. Daunnya berbentuk majemuk, menyisip 3 pasang helai atau lebih yang menyebar berlawanan. Helai daun memiliki bilah tebal yang biasanya berbentuk telur atau oval, dengan bagian ujung agak meruncing dan sedikit berlekuk. Buncis bunganya bisa mencapai 10 cm dengan bunga berwarna kekuningan pucat. Buahnya yang halus berwarna coklat atau hitam saat matang sepanjang 5 sampai 9 cm dan mengandung beberapa biji.
Intsia palembanica sering tumbuh di dekat pantai, tapi ditemukan juga di hutan rimba pada ketinggian sampai 1000 mdpl.  Umumnya tumbuh di hutan dataran rendah, atau pada zona transisi di belakang hutan mangrove. Posisi ini lebih menyukai posisi di bawah sinar matahari penuh, terutama pada saat awal pertumbuhan. Tanaman sangat toleran terhadap tanah salin dan angin yang mengandung garam. Tanaman yang ditanam juga cukup toleran terhadap kekeringan.
Kayu merbau memiliki aroma yang segar ketika baru ditebang. Kayu gubal dapat dibedakan dengan mudah berwarna kuning pucat. Batas antara kayu gubal dan teras sangat jelas. Warna Kayu teras bervariasi dari abu-abu kecoklatan, perunggu, coklat tua, sampai gelap. Serat kayu tidak selalu lurus, kadang saling bertautan. Tekstur kayu agak kasar dan homogen. Ketahanan alami tergolong sangat tahan, tapi kayu gubal rentan terhadap serangan jamur dan serangga. Index durabilitas alam (1 = durabilitas tinggi, 7 durabilitas rendah) masuk kelas 2. Kandungan silica hampir tidak ada. Tingkat resistensi terhadap ipregnasi tergolong sangat sulit ketika dimasuki bahan pengawet.
Pengeringan kayu sangat sulit dilakukan dengan kerusakan yang cukup parah, kecuali ditangani dengan hati-hati. Kayu dapat bengkok dan roboh pada saat dikeringkan karena penyusutan yang berlebihan. Penggergajian pada kayu ini dilaporkan sulit dilakukan. Selama penggergajian, mata pisau dapat tertutupi getah. Untuk pembuatan veneer dengan rotary veneer dan sliced veneer, spesies ini memungkinkan, tapi tidak disarankan karena kepadatannya yang tinggi. Penumpuluan alat potong termasuk kelas sedang. Hal yang sulit dilakukan adalah operasi pemesian dan pemakuan. Hal yang mudah dilakukan adalah pengeleman, pengeboran, dan finishing. Respon spesies ini dalam finishing bagus, tapi harus terlindungi dari kelembaban sampai finishing selesai. Pewarnaan sangat mudah dilakukan dan hasil polishing menghasilkan warna dan polesh yang sangat memuaskan, namun membutuhkan banyak filling. Penyerutan dilakukan dengan penurunan sudut pemotongan sampai 20 derajat dianggap sangat menguntungkan.
Berat jenis kayu dilaporkan memiliki rata-rata 0.71. Sifat Kimia kayu belum ada yang melaporkan. Sifat mekanika kayu sudah dilakukan pada kadar air 12%. Sifat mekanika yang sudah diketahui antara lain: bending strength (MOR) 1273 Kgf/cm2, MOE 638 Kgf/cm2, kekuatan tekan sejajar serat 638 Kgf/cm2, kekutan tekan tegak lurus serat 92 Kgf/cm2, kekuatan geser 127 Kgf/cm2, dan Kekerasan 678 Kgf/cm2.

Perbanyakan dilakuan secara generative dengan mengecambahkan biji. Biji akan berkecambah mulai hari ke-5 setelah perlakuan. Meskipun sangat mudah dibudidayakan, belum banyak yang melakukan budidaya merbau karena jenis ini tergolong lambat tumbuh.

Minggu, 01 Oktober 2017

Nekat

Waktu sudah menunjukan pukul 01.40 siang. Kubuka google maps, ternyata perjalanan dari Pantai Lovina menuju Tanah Lot membutuhkan waktu sekitar 2 jam 24 menit, dengan jarak tempuh 79 km. Berarti masih ada waktu untuk menikmati suasana matahari terbenam di Tanah Lot. Namun, jalan yang harus kutempuh sedikit berbeda dengan saat berangkat tadi, melewati daerah Gigit. Meskipun berbeda jalur, kuputuskan saja lewat jalur baru sambil berpetualang. Selain itu, jalur ini melewati Danau Tambilngan yang tadi belum sempat kukunjungi. Di lain sisi, Bali itu Pulau wisata. Mana mungkin ada jalan sepi dan bajing loncat seperti di Pulau Sumatera. Jadi jalan yang akan kutempuh kemungkinan besar aman.
Setelah 20 menit perjalanan, nyaliku sedikit menciut. Celaka, jalan yang kutempuh ini ternyata sangat berliku dan terus menanjak lebih terjal daripada jalur Gitgit. Disisi kiri terlihat pemandangan bukit yang begitu terjal. Lalu ketika jalur aspal berhenti, dilanjutkan dengan jalur berbatu, yang mungkin bukan jalur yang biasa ditempuh para wisatawan karena kondisi aspal yang sudah terkikis menyisakan bebatuan, Aku sedikit ragu. Tapi apapun yang terjadi, biarlah terjadi. Hidup ini hanyalah milik Allah, kalau memang nyawaku cukup sampai disini, mau apa lagi? Meskipun mempunyai banyak dosa, dan belum sempat taubat nasuha, Aku hanya bisa pasrah. Lalu kupanjatkan doa dalam hati agar diberikan kelancaran dan keselamatan sehingga bisa selamat sampai tujuan. Doa naik kendaraan juga kubaca lagi. Aku harus yakin kalau Allah akan mengabulkan doaku. Apalagi aku dalam keadaan musafir, yang doanya selalu diijabah. Dengan mengucapkan basmalah, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan motor scoopy rental. Semoga sepeda motornya sehat walafiat dan tidak mogok di tengah perjalanan.
Whatever will be, will be. The future not ours to see. Que sera-sera”. Aku jadi teringat lirik sebuah lagu. Apapun yang terjadi, biarlah terjadi. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Jangan takut atau bimbang, karena keraguan hanya akan membawa kepada penyesalan. Apalagi sebagai seorang rimbawan yang cinta petualangan, sudah biasa keluar masuk hutan, bahkan pernah tersesat di hutan, kenapa melewati jalan sedikit rusak saja harus takut? Selain itu, jalan ini masih ada dalam google maps.  Seperti biasa, pikiranku tidak pernah berhenti berpikir. Yang jelas aku tidak boleh melamun, nanti malah kena sambet atau masuk jurang.
Jalan aspal berbatu rupanya dilanjutkan dengan jalan semen dua jalur. Tebing dan jurang sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanyalah areal perkebunan dengan konisi kontur yang tergolong datar. Kuuikuti saja jalur yang ada karena tidak ada pilihan jalan lain. Namun saat jalan semen 2 jalur berakhir dan dilanjutkan jalan semen 1 jalur Aku mulai khawatir lagi, apalagi jalan yang kutempuh rupanya keluar dari jalur yang dianjurkan google maps. Rupanya aku salah belok. Kuputuskan saja untuk berputar, namun jalur yang dianjurkan justru lebih parah dari jalur tadi, sudah tidak ada jalur semen. Untungnya ada bapak-bapak yang sedang berkebun, Akupun memberanikan diri bertanya.
“Permisi Bli. Numpang Tanya. Kalau jalan terdekat menuju jalan besar lewat arah mana ya?”
“Tidak bisa lewat sini. Ini jalan kebun. Sebaiknya Bapak putar arah, belok kiri dan terus saja sampai ketemu jalan aspal. Memangnya bapak darimana? Kenapa bisa sampai kesini?” Tanyanya balik.
“Saya dari Bogor Bli, tadi dari Pantai Lovina, dari peta katanya lewat sini bisa lebih cepat”. Jawabku sambil pamit dan mengucapkan terimakasih.
Rupanya jalur yang disarankan adalah jalur semen satu yang tadi sempat kuanggap salah jalan karena tidak ada di google maps. Beberapa detik kemudian, Aku bertanya pada seorang bocah kecil yang sepertinya mengalami sedikit kecelakaan karena lututnya berdarah. Dia terjatuh saat main petak umpet, katanya dan dia juga mengatakan kalau jalan yang kutempuh sudah benar. Anak kecil biasanya bicara jujur, jadi aku sudah tidak ragu lagi.  Tidak sampai 5 menit, jalan besar akhirnya ketemu juga. Alhamudlillah, kucapkan rasa syukur karena tidak tersesat lebih jauh.  Sambil mendengarkan arahan google maps, Aku melanjutkan perjalanan melewati danau Tamblingan, Danau Buyan, dan Danau Beratan sambil sesekai berhenti untuk sekedar mengambil foto.  

Di pertigaan menuju Kebun raya Bali rupanya ada masjid, padahal tadi juga meliwati situ. Mungkin karena tidak fokus mencari masjid, jadinya tidak terlihat. Maka kuputuskan untuk sholat dulu. Karena waktu belum menunjukan waktu ashar, maka aku sholat jamak qoshor takdim saja. Setelah sholat, kupanjatkan doa dan rasa syukur karen sejauh ini Allah masih menjagaku dan melindungi dari marabahaya. Setelah sholat, kulihat lagi google maps. Masih 51 km atau sekitar 1.5 jam menuju Tanah Lot. Namun kali ini jalan yang akan kutempuh hampir sama dengan jalan saat berangkat tadi, Dengan mengucapkan basmallah, Akupun melanjutkan perjalanan.